Jumat, 03 Juli 2015

ISO 14001

TUGAS REVIEW/KAJIAN JURNAL PRE UAS (UJIAN AKHIR SEMESTER) MATA KULIAH "KIMIA DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN INDUSTRI"


Tujuan menyeluruh dari penerapan SML ISO 14001 sebagai sebuah standar internasional adalah untuk mendukung perlindungan lingkungan dan pencegahan pencemaran yang seimbang dengan kebutuhan sosial ekonomi.

SML ISO 14001 terdiri dari lima elemen utama yaitu:
1) kebijakan lingkungan
2) perencanaan lingkungan
3) pelaksanaan dan pengoperasian
4) tindakan pemeriksaan dan perbaikan
5) pengkajian manajemen (Badan Standarisasi Nasional, 2011)

Keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh dari SML ISO 14001 antara lain memperbaiki kinerja lingkungan secara keseluruhan, menghasilkan suatu kerangka kerja dalam upaya untuk pencegahan polusi, meningkatkan efisiensi dan penghematan biaya potensial, dan meningkatkan citra perusahaan.

Prinsip yang menjadi variabel pada penelitian pada relasi kinerja  lingkungan dan kinerja keuangan :
prinsip pertama kebijakan lingkungan yang berupa pernyataan oleh organisasi tentang keinginan dan prinsip-prinsipnya berkaitan dengan kinerja lingkungan keseluruhan yang memberikan kerangka untuk tindakan dan untuk penentuan tujuan dan sasaran lingkungan.
Prinsip kedua perencanaan lingkungan yang berupa pengambilan keputusan tentang hal-hal yang akan dikerjakan, dimana tujuan perencanaan atau rencana tindakan (action plan) adalah menciptakan kondisi yang baik sehingga perusahaan dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan kebijakan lingkungan yang didasarkan pada informasi yang benar dan usulan internal ataupun harapan perusahaan tentang kinerja perusahaan.
Prinsip ketiga adalah penerapan dan operasi,yaitu implementasi dari sistem manajemen lingkungan yang meliputi struktur dan tanggungjawab, pelatihan, kepedulian, dan kewenangan, komunikasi, dokumen sistem manajemen lingkungan, pengendalian dokumen, pengendalian operasional, kesiagaan dan tanggap darurat.
Prinsip keempat tindakan pemeriksaan yang melaksanakan kegiatan verifikasi atau pemeriksaan terhadap efisiensi kegiatan penerapan SML di perusahaan yang meliputi pemantauan dan pengukuran, ketidaksesuaian, tindakan koreksi dan pencegahan, serta audit sistem manajemen lingkungan.
Prinsip kelima Pengkajian manajemen yang berupa tindakan evaluasi dan tindakan perbaikan.

Dampak positif dan negatif yang akan terjadi sebagai akibat penerapan suatu kebijakan termaksud penerapan SML ISO 14001. Hasil pelaksanaan manajemen dalam mengelola perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laba rugi, laporan peruabahan ekuitas dan laporan arus kas (IAI, 2004). Tolok ukur yang sering digunakan untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan (Sawir, 2005). Untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, seluruh aktivitas tersebut harus dapat diukur. Pengukuran tersebut tidak semata-mata pada input, tetapi lebih ditekankan kepada output, atau manfaat program tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Koefisien jalur dari variabel kebijakan lingkungan terhadap perencanaan lingkungan adalah 0,5671, dengan demikian besarnya bobot pengaruh dari kebijakan lingkungan terhadap perencanaan lingkungan adalah sebesar 0,5671 dengan arah positif, artinya perusahaan industri yang telah memperoleh sertifikasi ISO 14001 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki kebijakan lingkungan yang baik cenderung menghasilkan perencanaan lingkungan yang baik pula.
Tujuan dan sasaran lingkungan adalah cita-cita lingkungan secara menyeluruh yang timbul dari kebijakan lingkungan yang telah ditentukan oleh organisasi itu sendiri untuk mencapai dan dikuantifikasikan bila memungkinkan.
Program manajemen lingkungan adalah suatu kerangka kerja dari kegiatan menyeluruh yang digunakan untuk memenuhi kebijakan lingkungan, kesesuaian dengan ketentuan lingkungan dan perbaikan terus menerus.

METODE
Objek penelitian terdiri variabel eksogenus atau variabel penyebab yaitu sistem manajemen lingkungan dan variabel endogenus atau variabel akibat yaitu kinerja keuangan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan analisis kausalitas. Populasi penelitian adalah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang juga sudah mendapatkan sertifikasi SML ISO 14001 pada tahun 2008 sebanyak sepuluh perusahaan. Cara pengambilan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada penanggung jawab bagian lingkungan di setiap perusahaan guna mengetahui implementasi SML ISO 14001.

Pendapat Clements (1996) bahwa perencanaan atau rencana tindakan (Action Plan) yang dilakukan hendaknya dapat menciptakan kondisi yang baik sehingga perusahaan dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan kebijakan lingkungan yang didasarkan pada informasi yang benar dan usulan internal ataupun harapan perusahaan tentang kinerja perusahaan. 

Rabu, 29 April 2015

Artikel - Baterai

#TUGAS ARTIKEL ( RANGKUMAN )
  MK. Kimia dan Pengetahuan Industri
  Minimal 5 Sumber data atau referensi
  Dosen Pengampu : Puspita Dewi Widayat, ST, MT



BATERAI

Baterai adalah alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkan tenaganya dalam bentuk listrik. Sebuah baterai biasanya terdiri dari tiga komponen penting, yaitu:
  1. batang karbon sebagai anode (kutub positif baterai)
  2. seng (Zn) sebagai katode (kutub negatif baterai)
  3. pasta sebagai elektrolit (penghantar)


Cara Kerja Baterai
Baterai menggunakan reaksi elektrokimia atau redoks untuk mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Reaksi redoks spontan terjadi pada sel galvanik, sementara reaksi kimia tidak spontan terjadi dalam sel elektrolitik.
Klasifikasi Baterai

1. Berdasarkan Sifatnya :

    a. Baterai Primer adalah baterai sekali pakai. Karena harga yang terjangkau baterai jenis ini pun paling mudah ditemukan, pada umumnya baterai jenis ini memiliki tegangan 1,5 Volt, 6 Volt dan 9 Volt. Variasi ukurannya pun bermacam - macam; AAA ( sangat kecil ), AA ( kecil ), C ( medium ) dan D ( besar ). Contoh : Baterai Alkalin, Lithium, Silver Oxide dll.

    b. Baterai Sekunder 
adalah baterai yang dapat diisi ulang. Adapun caranya dengan mangalirkan arus listrik atau charge ke baterai tersebut. Pada prinsipnya, cara Baterai Sekunder menghasilkan arus listrik adalah sama dengan Baterai Primer. Hanya saja, Reaksi Kimia pada Baterai Sekunder ini dapat berbalik (Reversible). Pada saat Baterai digunakan dengan menghubungkan beban pada terminal Baterai (discharge), Elektron akan mengalir dari Negatif ke Positif. Sedangkan pada saat Sumber Energi Luar (Charger) dihubungkan ke Baterai Sekunder, elektron akan mengalir dari Positif ke Negatif sehingga terjadi pengisian muatan pada baterai. Contoh : Aki ( asam timbal ), Li-on dll.

2. Berdasarkan Elemennya :

    a. Baterai Kering
     adalah baterai yang memliliki elektrolit berbentuk pasta yang agak padat dan sulit mengalami pergerakkan, sehingga bisa digunakan dalam berbagai posisi. Contoh : Baterai pada telepon selular.

    b. Baterai Basah
       Media penyimpan arus listrik ini merupakan jenis paling umum digunakan. baterai jenis ini masih perlu diberi air baterai yang dikenal dengan sebutan accu zuur. Contoh : Aki pada kendaraan bemotor.

Reaksi Kimia Proses Pengosongan dan Pengisian Baterai
1. Proses Pengosongan / discharge battery

Bila baterai dihubungkan dengan beban maka, elektron mengalir ke elektroda positif (PbO2) melalui beban dari elektroda negatif (Pb), kemudian ion-ion negatif mengalir ke  elektroda positif dan ion-ion positif mengalir ke elektroda negatif. Arus listrik dapat mengalir disebabkan adanya elektron yang bergerak ke dan/atau dari elektroda sel melalui reaksi ion antara molekul elektroda dengan molekul elektrolit sehingga memberikan jalan bagi elektron untuk mengalir.

Reaksi kimia yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Setiap molekul cairan elektrolit Asam sulfat (H2SO4) dalam sel tersebut pecah menjadi dua yaitu ion hydrogen yang bermuatan positif (2H+) dan ion sulfat yang bermuatan negatif (SO42-)


Bila baterai dibebani, maka tiap ion negatif sulfat (SO42-)akan bereaksi dengan plat timah murni (Pb) menjadi timah sulfat (PbSO4) sambil melepaskan dua elektron. Sedangkan sepasang ion hidrogen (2H+ ) akan bereaksi dengan plat timah peroksida (PbO2) menjadi timah sulfat (PbSO4) sambil mengambil dua elektron dan bersenyawa dengan satu atom oksigen untuk membentuk air (H2O). Pengambilan dan pemberian elektron dalam proses kimia ini akan menyebabkan timbulnya beda potensial listrik antara kutub-kutub sel baterai.

Reaksi ini akan berlangsung terus sampai isi (tenaga baterai) habis alias dalam keadaan discharge.


PbO2 = Timah peroxida (katub positif / anoda)
Pb = Timah murni (kutub negatif/katoda)
2H2SO4= Asam sulfat (elektrolit)
PbSO4 = Timah sulfat (kutub positif dan negatif setelah proses pengosongan)
H2O= Air yang terjadi setelah pengosongan

2. Proses Pengisian / Recharge Battery

Proses ini adalah kebalikan dari proses pengosongan dimana arus listrik dialirkan yang arahnya berlawanan dengan arus yang terjadi pada saat pengosongan. Pada proses ini setiap molekul air terurai. Ion oksigen yang bebas bersatu dengan tiap atom Pb pada plat positif membentuk timah peroxida (PbO2). Sedangkan tiap pasang ion hidrogen (2H+) yang dekat plat negatif bersatu dengan ion negatif Sulfat (SO4--) pada plat negatif untuk membentuk asam sulfat. Akibatnya berat jenis cairan elektrolit bertambah menjadi sekitar 1,285 (pada baterai yang terisi penuh).

Proses reaksi kima yang terjadi adalah sebagai berikut :



Sumber Referensi :

Jumat, 24 April 2015

Pemecahan Masalah Kesetimbangan


Kesetimbangan adalah reaksi bolak-balik (reversibel) yang membentuk reaktan bereaksi membentuk produk danproduk dapat bereaksi balik membentuk reaktan. Pada reaksi kesetimbangan, keadaan reaksinya secaramikroskopis berlangsung dinamis/terus-menerus/tidak berhenti (namun secara makroskopis reaksi diam/berhenti) dan laju reaksi ke arah kanannya akan sama dengan laju ke arah kirinya. Dan karena laju reaksi ke arah kanannya sama dengan laju reaksi ke arah kirinya, maka jumlah zat-zat pada saat kesetimbangan itu akan tetap.

Azas Le Chatelier
 Bila terhadap suatu kesetimbangan dilakukan suatu tindakan (aksi), maka sistem itu akan mengadakan reaksi yang cenderung mengurangi pengaruh aksi tersebut.”

Andaikan sistem yang kita perhatikan adalah kesetimbangan air-uap, air dalam silinder:  Jika volume sistem diperbesar (tekanan dikurangi) maka sistem berupaya mengadakan perubahan sedemikian rupa hingga mengembalikan tekanan ke keadaan semula, yakni dengan menambah jumlah molekul yang pindah ke fasa uap, setelah kesetimbangan baru dicapai lagi, air yang ada lebih sedikit dan uap air terdapat lebih banyak dari keadaam kesetimbangan pertama tadi. Jika keserimbangan itu ditulis dalam persamaan reaksi:
  H2O (l)   <======>  H2O (g)

Maka kesetimbangan dapat  dinyatakan “bergeser ke kanan”. Pergeseran kesetimbangan dapat dipengaruhi oleh faktor luar seperti suhu, tekanan, dan konsentrasi. Jadi secara singka azas Le Chatelier  dapat disimpulkan sebagai REAKSI = -AKSI

Cara sistem bereaksi adalah dengan melakukan pergeseran ke kiri atau ke kanan.  Berikut pembahasan penerapan azas Le Chatelier terhadap pergeseran kesetimbangan. 
Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut.

Tabel . Pengaruh Konsentrasi Terhadap kesetimbangan.

Penambahan tekanan dengan cara memperkecil volum akan memperbesar konsentrasi semua komponen. Maka sistem akan bereaksi dengan mengurangi tekanan. Untuk mengurangi tekanan maka reaksi kesetimbangan akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih kecil.

  Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi endoterm).


Kamis, 23 April 2015

Dasar Teori Kuantum Klasik dan Atom Bohr


Dasar Dasar Teori Kuantum Klasik
Spektrum atom
Bila logam atau senyawanya dipanaskan di pembakar, warna khas logam akan muncul. Ini yang dikenal dengan reaksi nyala. Bila warna ini dipisahkan dengan prisma, beberapa garis spektra akan muncul, dan panjang gelombang setiap garis khas untuk logam yang digunakan. Misalnya, garis kuning natrium berkaitan dengan dua garis kuning dalam spektrumnya dalam daerah sinar tampak, dan panjang gelombang kedua garis ini adalah 5,890 x 10-7 m dan 5,896 x 10-7 m.
Bila gas ada dalam tabung vakum, dan diberi beda potensial tinggi, gas akan terlucuti dan memancarkan cahaya. Pemisahan cahaya yang dihasilkan dengan prisma akan menghasilkan garisspektra garis diskontinyu. Karena panjang gelombang cahaya khas bagi atom, spektrum ini disebut dengan spektrum atom.
Fisikawan Swiss Johann Jakob Balmer (1825-1898) memisahkan cahaya yang diemisikan oleh hidrogen bertekanan rendah. Ia mengenali bahwa panjang gelombang λ deretan garis spektra ini dapat dengan akurat diungkapkan dalam persamaan sederhana (1885). Fisikawan Swedia Johannes Robert Rydberg (1854-1919) menemukan bahwa bilangan gelombang σ garis spektra dapat diungkapkan dengan persamaan berikut (1889).
σ = 1/ λ = R{ (1/ni2 ) -(1/nj2 ) }cm-1 … (2.1)
Jumlah gelombang dalam satuan panjang (misalnya, per 1 cm)
ni dan nj bilangan positif bulat(ni < nj) dan R adalah tetapan khas untuk gas yang digunakan. Untuk hidrogen R bernilai 1,09678 x 107m-1.
Umumnya bilangan gelombang garis spektra atom hodrogen dapat diungkapkan sebagai perbedaan dua suku R/n2. Spektra atom gas lain jauh lebih rumit, tetapi sekali lagi bilangan gelombangnya juga dapat diungkapkan sebagai perbedaan dua suku.

Atom Bohr

Model dan Kelemahan Teori Atom Bohr, Pengertian, Contoh, Gambar, Kimia - Dilihat dari kandungan energi elektron, ternyata model atom Rutherford mempunyai kelemahan. Ketika elektron-elektron mengelilingi inti atom, mereka mengalami percepatan terus-menerus, sehingga elektron harus membebaskan energi. Lama kelamaan energi yang dimiliki oleh elektron makin berkurang dan elektron akan tertarik makin dekat ke arah inti, sehingga akhirnya jatuh ke dalam inti. Tetapi pada kenyataannya, seluruh elektron dalam atom tidak pernah jatuh ke inti. Jadi, model atom nuklir Rutherford harus disempurnakan.

Dua tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1913, seorang ilmuwan dari Denmark yang bernama Niels Henrik David Bohr (1885-1962) menyempurnakan model atom Rutherford.

Bohr mengemukakan teori tentang atom yang bertitik tolak dari model atom nuklir Rutherford dan teori kuantum Planck. [2]

Model atom yang diajukan Bohr dikenal sebagai model atom Rutherford-Bohr, yang dapat diterangkan sebagai berikut.

1. Elektron-elektron dalam atom hanya dapat melintasi lintasan-lintasan tertentu yang disebut kulit-kulit atau tingkat-tingkat energi.


2. Elektron yang beredar pada lintasannya tidak memancarkan energi, lintasan elektron ini disebut lintasan / keadaan stasioner.


3. Kedudukan elektron dalam kulit-kulit, tingkat-tingkat energi dapat disamakan dengan kedudukan seseorang yang berada pada anak-anak tangga. Seseorang hanya dapat berada pada anak tangga pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tetapi ia tidak mungkin berada di antara anak tangga-anak tangga tersebut.

Apabila elektron dengan tingkat energi rendah pindah ke lintasan dengan tingkat energi lebih tinggi maka elektron akan menyerap energi, peristiwa ini disebut eksitasi. Sebaliknya, apabila elektron pindah dari lintasan dengan tingkat energi lebih tinggi ke lintasan dengan tingkat energi lebih rendah maka elektron akan memancarkan energi, peristiwa ini disebut deeksitasi. Baik eksitasi maupun deeksitasi disebut peristiwa transisi elektron. Energi yang diserap atau dipancarkan pada peristiwa transisi elektron ini dinyatakan dengan persamaan: [2]

ΔE = hv

Keterangan:

ΔE = perbedaan tingkat energi
h = tetapan Planck = 6,6 × 10–34 J/s
v = frekuensi radiasi

4. Energi yang dipancarkan/diserap ketika terjadi transisi elektron terekam sebagai spektrum atom. [2] 

Beberapa kelebihan dan kelemahan dari model atom Bohr, dapat dilihat dalam uraian berikut. [2]

Kelebihan Teori Atom Bohr 
  1. Menjawab kelemahan dalam model atom Rutherford dengan mengaplikasikan teori kuantum.
  2. Menerangkan dengan jelas garis spektrum pancaran (emisi) atau serapan (absorpsi) dari atom hidrogen.
Kelemahan Teori Atom Bohr 
  1. Terjadi penyimpangan untuk atom yang lebih besar dari hidrogen.
  2. Tidak dapat menerangkan efek Zaeman, yaitu spektrum atom yang lebih rumit apabila atom ditempatkan pada medan magnet.


Model atom Bohr
Model atom Bohr. [2]
Model atom Bohr tersebut dapat dianalogkan seperti sebuah tata surya mini. Pada tata surya, planet-planet beredar mengelilingi matahari. Pada atom, elektron-elektron beredar mengelilingi atom, hanya bedanya pada sistem tata surya, setiap lintasan (orbit) hanya ditempati 1 planet, sedangkan pada atom setiap lintasan (kulit) dapat ditempati lebih dari 1 elektron.

Dalam model atom Bohr ini dikenal istilah konfigurasi elektron, yaitu susunan elektron pada masing-masing kulit. Data yang digunakan untuk menuliskan konfigurasi elektron adalah nomor atom suatu unsur, di mana nomor atom unsur menyatakan jumlah elektron dalam atom unsur tersebut. Sedangkan elektron pada kulit terluar dikenal dengan sebutan elektron valensi. Susunan elektron valensi sangat menentukan sifatsifat kimia suatu atom dan berperan penting dalam membentuk ikatan dengan atom lain.

Untuk menentukan konfigurasi elektron suatu unsur, ada beberapa patokan yang harus selalu diingat, yaitu:

a. Dimulai dari lintasan yang terdekat dengan inti, masing-masing lintasan disebut kulit ke-1 (kulit K), kulit ke-2 (kulit L), kulit ke-3 (kulit M), kulit ke-4 (kulit N), dan seterusnya.
b. Jumlah elektron maksimum (paling banyak) yang dapat menempati masing-masing kulit adalah:

2 n2

dengan n = nomor kulit

Kulit K dapat menampung maksimal 2 elektron.
Kulit L dapat menampung maksimal 8 elektron.
Kulit M dapat menampung maksimal 18 elektron, dan seterusnya.

c. Kulit yang paling luar hanya boleh mengandung maksimal 8 elektron.

Tokoh Kimia :
Niels (Henrik David) Bohr
(1885–1962)
Niels Bohr
Niels Henrik David Bohr. [2]
Niels (Henrik David) Bohr (1885–1962) adalah seorang kimiawan asal Denmark. Ia diperhitungkan sebagai salah seorang fisikawan besar pada abad ke-20 meskipun ia sendiri mengakui dirinya sebagai seorang kimiawan.Bohr mendapatkan gelar doktornya di Copenhagen University kemudian ia belajar di Inggris di bawah pengawasan Ernest Rutherford. Dengan dasar teori atom Rutherford, Bohr melakukan penelitian tentang teori atom sampai berhasil menemukan teori atomnya sendiri. Bohr mempublikasikan teori atomnya pada 1913. Teorinya ini kemudian menjadi dasar terhadap teori kuantum. [2]


Selasa, 21 April 2015

Jurnal Kimia - Pemanfaatan Ekstrak Daun Kenikir (Tagetes erectus) Sebagai Alternatif Anti Bakteri Staphylococcus Epidermidis Pada Deodoran Parfume Spray


Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012

Atika Salma1), Meita Wulan Sari2), Eko Budiyanto1), Latifah Zuliyanti2), Reni Dwi Astuti3)
1)Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
2)Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
3)Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Abstrak
Deodoran perfume spray berbahan ekstrak daun kenikir merupakan produk yang digunakan untuk mengatasi bau badan yang disebabkan bakteri Staphylococcus epidermidis. Kualitas produk metentukan keefektifan daya hambatnya terhadap bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas deodoran perfume spray dan ekstrak daun kenikir terhadap aktivitas bakteri dan konsentrasi optimum deodoran perfume spray dalam mengurangi aktivitas bakteri tersebut.

Metode yang dilakukan terdiri atas 5 tahap, yaitu 1) Pembuatan ekstrak daun kenikir, 2)Pembuatan deodoran perfume spray (2 formula dengan komposisi berbeda), 3) Isolasi bakteri, 4) Uji produk terhadap aktivitas bakteri dan 5) Uji khalayak terbatas. Penentuan kualitas produk (kontrol, konsentrasi 5%, 10%, 15% dan deodoran perfume spray konvensional) hal tampilan, aroma dan sensasi di kulit menggunakan metode angket.

Hasil analisis keefektifan deodoran terhadap aktivitas bakteri sebagai berikut, formula 1 (30 ml ekstrak daun kenikir masing-masing 5%; 10%; 15%, 5 ml propilen glikol, 5ml akuades, 60ml alkohol 96%) dengan deodoran pasaran 13mm, alkohol 96% (kontrol) 10mm, deodoran ekstrak kenikir konsentrasi 5% 10mm, konsentrasi 10% 9mm, konsentrasi 15% . Variasi konsentrasi 5% dan deodoran konvensional merupakan konsentrasi optimum dalam mengurangi aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis. Formula 2 (30 ml ekstrak daun kenikir masing-masing 5%; 10%; 15%, 5 ml propilen glikol, 40 ml akuades, 20 ml alkohol 96%)dengan dengan deodoran pasaran 16 mm, alkohol 96% 11,75mm, deodoran 5% 10,25 mm, deodoran 10% 11,1875 mm, deodoran 15% 9,75 mm. Variasi konsentrasi 10% merupakan konsentrasi optimum dalam menghambat bakteri Staphylococcus Epidermidis dengan daya hambat 11,1875 mm.

Kata kunci: Deodoran, Daun Kenikir, Konsentrasi

Pendahuluan
Bau badan merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Bau tidak sedap tubuh seringkali membuat seseorang merasa kurang percaya diri. Aroma yang tidak sedap tersebut biasanya akan muncul ketika seseorang mulai berkeringat. Ada keringat yang mengeluarkan bau tetapi ada juga yang tidak. Biasanya bau yang tidak sedap timbul bersama bau badan yang disebabkan oleh aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis.

Deodoran merupakan produk yang digunakan untuk mengatasi bau badan yang disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Deodoran mengurangi bau badan dengan cara menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau badan dan antiperspirant yang mengurangi keluarnya keringat dengan cara menutup dan menghalangi pori-pori kulit ketiak. Bahan yang digunakan sebagai antiperspirant adalah Aluminium Chlorohydrate (ACH) pada roll on dan Aluminium Zirconium Tetrachlorohydrex Gly pada powder stick. (http://www.mandom.co.id/yourlook.php?lang=EL&cat=1000467).

Dr. Chris Exley dari Keele University menyatakan bahwa kandungan aluminium pada sunscreen dapat meningkatkan risiko kanker kulit dan penyakit Alzheimer pada penggunanya (Journal of Inorganic Biochemistry November 2007). Hal ini disebabkan aluminum bersifat neurotoksin (racun yang merusak syaraf). Aluminium dalam konsentrasi tinggi ditemukan pada otak penderita penyakit Alzheimer.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kris Mc Grath dalam Niar (2010) diketahui bahwa ditemukan hubungan antara penggunaan antiperspirant, kebiasaan mencukur ketiak dan kanker. Kris Mc Grath menyatakan, “Garam aluminum seperti aluminum chlorohydrate secara normal tidak menembus kulit, namun kulit yang rusak akibat dicukur memudahkan penetrasi, terutama ke sistem lymphatic yang berhubungan dengan payudara”.

Melihat banyaknya penyakit-penyakit yang ditimbulkan akibat penggunaan deodoran sintesis maka diperlukan suatu alternatif bahan yang lebih aman dengan memanfaatkan baham alami. Kenikir (Tagetes erecta) mengandung saponin dan flavonoida. Saat ini diketahui bahwa senyawa saponin dan flavonoid mempunyai aktivitas antibakteri. Hal ini membuat daun kenikir memiliki potensi sebagai deodoran. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ekstrak daun kenikir (Tagetes erecta) terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis sebagai penyebab bau badan.

Daun Kenikir ( Tagetes Erecta )

1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari program ini adalah :
a. Mengetahui efektivitas penggunaan deodoran parfume spray dengan ekstrak daun kenikir terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis.
b. Mengetahui konsentrasi optimum deodoran parfume spray dalam mengurangi aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis.

2. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat untuk dikembangkan lebih lanjut.
b. Mengetahui manfaat lain dari tanaman kenikir (Tagetes erecta) yaitu sebagai bahan campuran pembuatan deodoran dalam bentuk parfume spray.

2. Bagi Masyarakat
a. Memberikan alternatif bahan tambahan deodoran dari bahan alami yaitu ekstrak daun kenikir yang aman, murah dan mudah dibuat.
b. Memberikan alternatif pemanfaatan tanaman kenikir (Tagetes erecta) sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomisnya.

METODE PENELITIAN
1. Alat dan Bahan
Alat : loyang datar, toples kaca, pisau, corong kaca, oven, kertas saring, botol plastik, gelas beker,1 set rotary evaporator, labu ukur 100 ml, botol parfum, pipet tetes, gelas plastik, spatula, gelas ukur 50 ml, inkubator, botol flacon, cawan petri, hockey stick, tabung reaksi dan spidol.
Bahan : daun kenikir, Mueller Hinton Agar, Ekstrak daun kenikir, Alkohol 96%, Propilen glikol, Akuades dan Mannitol Salt Agar

2. Subyek dan obyek penelitian
Subyek penelitian ini adalah ekstrak daun kenikir (Tagetes erecta), sedangkan obyek penelitian ini adalah kemampuan ekstrak daun kenikir (Tagetes erecta) untuk menurunkan aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis yang menyebabkan bau badan. Dalam penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi ekstrak daun kenikir, yaitu 5%, 10% dan 15% dan variasi komposisi pada pembuatan deodoran perfume spray. Variasi konsentrasi ekstrak dan komposisi deodoran untuk mengetahui pengaruhnya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.

3. Prosedur
a. Pembuatan ekstrak daun kenikir
Memotong daun kenikir kurang lebih 0,5 cm, kemudian pengeringan dalam ovendengan suhu 60-700C selama kurang lebih 4-5 jam. Kemudian merendam daun kenikir kering (maserasi) dalam toples kaca dengan pelarut Alkohol 96% selama 24 jam. Setelah maserasi, evaporasi dengan rotary evaporator selama kurang lebih 3 jam hingga didapatekstrak kental daun kenikir.

b. Isolasi bakteri
Menyiapkan tabung reaksi bertutup steril dan isi dengan media agar miring, kemudian memijarkan ose dan membiarkan dingin lalu memberi tanda kontrol pada salah satu tabung reaksi yang berisi Mannitol Salt Agar dan biarkan tidak terinokulasi. Setelah proses pemijaran ose, menginokulasi bakteri Staphylococcus epidermidis dengan kawat ose dalam media agar miring Mannitol Salt Agar dengan cara gerakan zig-zag perlahan-lahan dimulai dari bagian bawah tabung ke atas. Langkah berikutnya memijarkan ose setelah digunakan, kemudian memberi label pada tabung reaksi, menuliskan nama bakteri dan tanggal inokulasi, selanjutnya menginkubasi biakan dalam inkubator pada suhu 350C selama 24 jam.

c. Pembuatan deodoran perfume spray
Formula deodoran 1: 60 ml alkohol 96%, 30 ml ekstrak daun kenikir (5%,10%, 15%), 5 ml akuades dan 5 ml propilen glikol, sedangkan untuk formula deodoran 2: 20 ml alkohol 96%, 30 ml ekstrak daun kenikir (5%,10%, 15%), 40 ml akuades dan 5 ml propilen glikol.

d. Pengujian Deodoran Parfume Spray terhadap Aktivitas Bakteri Staphylococcus Epidermidis
Media agar Mueller Hinton ditimbang sebanyak 38 gram dilarutkan dalam aquadest sampai 1 liter dengan cara dididihkan. Setelah larut, disterilkan dengan autoklaf suhu 121°C selama 15 menit. Larutan dituang ke dalam 4 cawan petri steril sampai ketebalan 9 mm dan ditutup lalu dibiarkan sampai membeku , kemudian mengambil 20 μL biakan murni Staphylococcus epidermidis, selanjutnya menuangkan biakan murni tersebut ke dalam masing-masing cawan petri, lalu diratakan dengan hockey stick, membuat lubang kecil di agar Mueller Hinton kering dalam tiap-tiap cawan petri, lalu memasukkan masing-masing 10 μL standar (deodoran parfume spray yang ada di pasaran), deodoran parfume spray dari ekstrak kenikir 5%, 10%, dan 15% ke dalam lubang kecil, menancapkan kontrol negatif dan kontrol positif ke masing-masing agar Mueller Hinton dalam cawan petri, menutup seluruh cawan petri , kemudian membalik dan menginkubasi seluruh cawan petri dalam inkubator suhu 370C selama 24 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil Penelitian
Berdasarkan uji daya hambat, diperoleh daya hambat deodoran perfume spray sebagai berikut:
Gambar 1. Grafik hasil uji daya hambat deodoran perfume spray terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis

Interpretasi: grafik pada gambar 1 menunjukkan:

Pada perlakuan pertama yaitu pemberian deodoran perfume spray dengan kandungan ekstrak daun kenikir 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.epidermidis dengan rata-rata 10,25 mm.
Pada perlakuan pertama yaitu pemberian deodoran perfume spray dengan kandungan ekstrak daun kenikir 10% dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.epidermidis dengan rata-rata 11,1875 mm.
Pada perlakuan pertama yaitu pemberian deodoran perfume spray dengan kandungan ekstrak daun kenikir 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.epidermidis dengan rata-rata 9,75 mm.
Deodoran pasaran (no.4) adalah deodoran yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S.epidermidis dengan rata-rata 16 mm. Sedangkan varibel kontrol dalam hal ini adalah alkohol 96% dapat menghambat bakteri S.epidermidis dengan rata-rata 11,75.
Rekap penilaian ke-3 deodoran :

Sample Tampilan Aroma Minat
Deodoran A C K K
Deodoran B C C C
Deodoran C C K SK

Berdasarkan nilai kualitatif yang telah diberikan, telah nampak bahwa deodoran yang disukai oleh khalayak adalah deodoran B dengan kandungan ekstrak daun kenikir 10%, dengan nilai cukup (C ) dalam 3 aspek yaitu tampilan, aroma, dan minat. Berikut tabel pembanding 2 variasi formula deodoran perfume spray

Indikator Formula 1 Formula 2
Konsentrasi
optimum
5% 10%
Uji daya hambat 10 mm 11,1875 mm
Warna Hijau Kuning
Bau Menyengat Daun kenikir, tidak menyengat
Sensasi di kulit Dingin Dingin
Keawetan 2 Bulan 3 Minggu
Minat Kurang Berminat Cukup Berminat
Daya Tahan 2 jam 4-5 Jam

b. Pembahasan
Penelitian yang berjudul Pemanfaatan Ekstrak Daun Kenikir (Tagetes erecta) sebagai Alternatif Anti Bakteri pada Deodoran Perfume Spray bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan deodoran parfume spray dengan ekstrak daun kenikir terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis dan mengetahui konsentrasi optimum deodoran parfume spray dalam mengurangi aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis. Daun kenikir mengandung saponin dan flavonoida (Cowan, M.M. (1999). “Plant Products as AntimicrobialAgents”.AmericanSociety for Microbiology. 12, (4), 564-582.)
Pembuatan deodoran dilakukan sebanyak 2 kali dengan variasi komposisi yang berbeda. Formula 1 menggunakan metode pengenceran dengan pelarut alkohol 96% hingga didapat konsentrasi 5%, 10% dan 15%, untuk formula 1 deodoran : 60 ml alkohol 96%, 30 ml ekstrak daun kenikir (5%,10%, 15%), 5 ml akuades dan 5 ml propilen glikol. Pengujian deodorant perfume spray terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis dilakukan di BLK dengan uji daerah hambat. Hasil analisis keefektifan deodoran terhadap aktivitas bakteri sebagai berikut, deodoran pasaran 13mm, alkohol 96% (kontrol) 10mm, deodoran ekstrak kenikir konsentrasi 5% 10mm, konsentrasi 10% 9mm, konsentrasi 15% 9mm.
Konsentrasi 5% dan deodoran pasaran merupakan konsentrasi optimum dalam mengurangi aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil uji khalayak terbatas menunjukkan bahwa naracoba kurang berminat pada produk ini karena komposisi alkohol yang terlalu banyak dan menusuk hidung.

Dari hasil uji daya hambat, deodoran pasaran memiliki tingkat keefektifan paling tinggi dalam menghambat bakteri, yaitu dengan rata-rata 16 mm, dilanjutkan dengan kontrol (alkohol 96%) dengan daya hambat 11,75 mm, kemudian deodoran perfume spray 5% dengan daya hambat 10,25 mm, deodoran perfume spray 10% dengan daya hambat 11,1875 mm dan deodoran perfume spray 15% dengan daya hambat 9,75 mm untuk formula 2. Konsentrasi deodoran kenikir 10% merupakan konsentrasi paling efektif dalam menghambat bakteri. 2 konsentrasi terbaik pada 2 formula di atas belum lebih baik dari deodoran konvensional, namun deodoran konvensional yang dijadikan sampel untuk diuji mengandung Aluminium klorohidrat (ACH) yang berbahaya bagi tubuh.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kris Mc Grath dalam Niar (2010) diketahui bahwa ditemukan hubungan antara penggunaan antiperspirant, kebiasaan mencukur ketiak dan kanker. Kris Mc Grath menyatakan, “Garam aluminum seperti aluminum chlorohydrate secara normal tidak menembus kulit, namun kulit yang rusak akibat dicukur memudahkan penetrasi, terutama ke sistem lymphatic yang berhubungan dengan payudara”. Proses mengeluarkan keringat merupakan bagian dari salah satu metabolisme, sedangkan anti-perspirant bersifat menahan keluarnya keringat. Aluminium klorohidrat memiliki efek adsorpsi ke dalam jaringan tubuh yang berhubungan dengan payudara dan jaringan otak sehingga dapat menyebabkan penimbunan yang dapat memicu kanker payudara dan alzheimer.( Endarti, Yulinah, E and Soediro, I. (2002). Kajian Aktivitas Asam Usnat terhadap Bakteri Penyebab Bau Badan [Online]. Tersedia: http://bahanalam.fa.itb.ac.id/detail.php?id=121)

Berdasarkan analisis data, deodoran dengan hasil uji daya hambat terbaik adalah formula 2, sedangkan untuk produk yang lebih banyak diminati adalah formula 2. Untuk keawetan, formula 1 lebih awet dan dapat disimpan selama 2 bulan, untuk formula 2 kurang awet, yaitu hanya berkisar kurang dari 3 minggu dengan indikator warna dan bau. Uji daya tahan, formula 1 dengan daya tahan 2 jam dan formula 2 dengan daya tahan 4-5 jam.

Daun kenikir merupakan daun yang mudah rapuh dan cepat rusak terutama pada suhu lembab. Daun kenikir yang rentan akan kelembaban membusuk kurang dari 1 hari. Jika disimpan dalam lemari es, hanya bertahan kurang dari 5 hari.Penggunaan metode distilasi tidak efektif untuk mendapatkan hasil ekstrak yang maksimal. Sehingga peneliti menggunakan metode maserasi (perendaman) selama 24 jam menggunakan pelarut alkohol 96 %. Uji khalayak terbatas kami lakukan dengan wawancara dan uji kelayakan.

Untuk instrumen penelitian ekstraksi tidak kami lakukan karena konsentrasi 5%,10% dan 15% bila diencerkan kembali 10x,100x dan 1000x maka kandungan ekstrak dalam daun kenikir (flavonoida) akan sedikit dan tidak begitu berpengaruh pada bakteri yang diuji. Pengujian efektivitas deodoran terhadap bakteri dengan daya hambat menggunakan media Mueller Hinton, berbeda dengan metode yang digunakan dalam proposal, yaitu MSA (Mannitol Salt Agar) dikarenakan hasil yang uji yang didapatkan dengan media MSA tidak maksimal (diameter daya hambat tidak terlihat untuk semua sampel).

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat dikemukanan beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Deodoran dengan konsentrasi 5% (formula 1) dan 10% (formula 2) merupakan konsentrasi optimum dalam menghambat aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis dengan daya hambat 10 mm dan 11,1875 mm.
2. Konsentrasi optimum dalam menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis adalah 10% pada formula 2.
3. Formula deodoran dengan konsentrasi optimum adalah 20 ml alkohol 96%, propilen glikol 5 ml, akuades 40 ml dan ekstrak daun kenikir (5%,10%,15%) 30 ml.

SARAN
Perlu dilakukan penelitian pengembangan mengenai pemanfaatan ekstrak daun kenikir sebagai alternatif anti bakteri Staphylococcus epidermidis pada deodoran perfume spray mengenai komposisi dan konsentrasi yang tepat dalam menghambat aktivitas bakteri Staphylococcus epidermidis.


Atika Salma, dkk
Pemanfaatan Ekstrak Daun Keningkir


DAFTAR PUSTAKA
Bartlett, J.G. (2007). Staphylococcus epidermidis [Online]. Tersedia: http://prod.hopkins-abxguide.org/pathogens/bacteria/aerobic_grampositive_cocci/staphylococcus_epidermidis.html?contentInstanceId=255870 (15 Juli 2008).
Cowan, M.M. (1999). “Plant Products as Antimicrobial Agents”. American Society for Microbiology. 12, (4), 564-582.
Ekpo, O.E. & Pretorius, E. (2007). ”Asthma, Euphorbia hirta and Its Antiinflammatory Properties”. South African Journal of Science. 103, 201-203.
Endarti, Yulinah, E and Soediro, I. (2002). Kajian Aktivitas Asam Usnat terhadap Bakteri Penyebab Bau Badan [Online]. Tersedia: http://bahanalam. fa.itb.ac.id/detail.php?id=121 (26 Jun 2008).
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia II. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan.
Jacoeb, T.N.A. (2007). Bau Badan yang Bikin Tak Nyaman [Online]. Tersedia: http://racik.wordpress.com/2007/06/15/bau-badan-yang-bikin-tak-nyaman/(4 April 2008).
Sabir, A. (2005). ”Aktivitas Antibakteri Flavonoid Propolis Trigona sp terhadapbakteri Streptococcus mutans (in vitro)”. Majalah Kedokteran Gigi. 38, (3), 135-141.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012

Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
K-31